Senin, 26 November 2012

Sejarah Atom


 


 Atom sudah di temukan pada masa Yunani kuno, yaitu pada tahun kurang lebih 500 SM pada masa ini pendapat seorang ilmuan tentang bentuk dan sifat atom sudah mulai di perdebatkan yaitu oleh ilmuan yang bernama Leokipos dan Democritu kedua ilmuan ini menyatakan bahwa atom adalah sesuatu yang kecil yang tidak bisa dibagi lagi, tetapi ilmuan lain yaitu Aristo teles menyatakan bahwa ato itu adalah yang bisa dibagi terus menerus, pendapat keduabelah pihak ini masih di pertimbangkan oleh rakyat, tetapi karena Aristo teles merupakan ilmuan yang sangat terkenal pada masa itu jadi pendapat Aristo teles dijadikan patokan untuk sifat san bentuk atom, padahal pendapat Leukipos dan Demokipos benar berhubung ilmuan ini tidak cukup terkenal, jadi yang menjadi patokan rakyat unutk atom adalah Aristo teles.

Pada Abad ke 19 ada lagi teori yang menyatakan bahwa atom adalah sesuatu yang kecil bentuknya bulat pejal ya seperti bakso, teori ini sudah diakui oleh rakyat, dan ilmuan ini disebut dengan julukan Bapak Atom

Dan pada tahun1879 seorang ilmuan yang bernama John Thompson, kali ini ilmuan ini menyatakan bahwa atom mempunyai partikel partikel elektron (-) dan letaknya tersebar di seluruh atom seperti Roti kismis.

Pada abad ke 20 an Para peneli dari berbagai negara sedang mencari kekurangan yang dinyatakan oleh bapak Thompson, akhirnya seorang ilmuan yang bernama Ertnest Rutherford mempunyai teori baru yaitu bahwa atom memiliki inti yang bermuatan posisif yaitu proton (+).

Kemudian tahun 1933 seorang ilmuan yang bernama James Chadwick memukan sesuatu yang baru dari atom yaitu bahwa atum juga memiliki Neutron atau yang tidak bermuatan dan tempatnya di inti.

Kemudian Masyarakat bertanya tanya kalau (-) dan (+) berdekatan maka akan terjadinya tarik menarik, akirnya seorang ilmuan yang bernama Niels Bohr melalui penelitianya ternya atom juga memiliki kulit kulit yang membatasi satu sama lain, Teori ini adalah teori moderen yang digunakan sampai sekarang ini.

Manfaat baru botol plastik bekas


Description: Image










Botol-botol plastik sampah bisa diurai untuk membuat bola-bola karbon yang sangat kuat, yang bisa digunakan dalam pelumas.
Vilas Pol dari Bar-Ilan University, Ramat-Gan, Israel, dan rekan-rekannya menghasilkan mikrosfer karbon yang kuat dari PET (polietilen tereftalat) sampah. Mereka memanaskannya botol cola bekas pakai pada suhu 700oC selama tiga jam dalam sebuah reaktor tertutup. Plastik kemudian didekomposisi dibawah tekanan yang terbentuk sendiri untuk menghasilkan bola karbon yang keras dengan diameter antara dua sampai 10 mikrometer. “Salah satu pisau mata berlian kami patah dan yang lainnya rusak pada saat kami mencoba memotong melintang bola karbon ini,” kata Pol.

“Kekuatan material-material ini sangat menarik,” kata Neil Coville, koordinator grup Carbon Nanotubes and Strong Composites di University of the Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan. “Hasil ini sangat mengesankan dan kita harus mempertimbangkan penggunaan material ini di masa mendatang”.

“Proses ini sangat menarik,” kata Philippe Serp, seorang ahli di bidang nano-struktur karbon di National Center for Scientific Research, Toulouse, Perancis, “Karena proses ini tidak memerlukan katalis.” Proses yang bisa ditingkatkan menjadi skala industri ini juga tidak memerlukan pelarut dan lebih baik dari metode-metode sekarang yang memiliki kekurangan seperti hasil yang rendah dan pemisahan bola-bola karbon yang tidak maksimal jelaga karbon.

Bola-bola karbon digunakan dalam penyimpanan energi dan piranti-nano. Mikrosfer yang dibuat Pol ini bisa tahan pada tekanan yang sangat tinggi, sehingga dapat digunakan dalam pelumas. Mengurangi suhu reaksi dibawah 700oC akan memberikan partikel-partikel karbon yang lebih besar yang bisa digunakan dalam piranti seperti printer, toner, dan teknologi filtrasi.

“Tantangan yang dihadapi komunitas sains sekarang ini untuk mencari solusi yang inovatif untuk degradasi polimer-polimer limbah telah memotivasi kami,” papar rekan Pol, Aharon Gedanken. “Proses yang kami gunakan ini menunjukkan sebuah cara untuk merubah limbah polimer PET menjadi produk-produk yang bernilai industri.

Minggu, 25 November 2012

BATIK GEDOG


Batik gedog Tuban kaya motif, warna dan fungsi. Satu ibu rumah tangga di Tuban memiliki lima lembar kain batik untuk berbagai keperluan berbeda. Di Tuban, terdapat 100 ragam motif batik, 40 diantaranya sudah dipatenkan pemerintah daerah setempat sebagai upaya pelestarian budaya. Yang juga khas dari batik Tuban adalah konsistensi perajin untuk melestarikan batik tulis. Mudah saja membedakan batik Tuban, karena batik yang diaplikasikan pada kain tenun hingga katun, kebanyakan adalah batik tulis. Hanya beberapa perajin saja yang masih mengaplikasikan batik cap di Tuban.
Masyarakat Tuban, Jawa Timur, mengenal batik dengan sebutan batik gedog. Gedog berasal dari bunyi dog-dog yang berasal dari alat menenun batik. Perajin batik di Tuban, secara turun temurun membatik pada kain tenun. Proses pembuatan batik gedog  Tuban butuh waktu sekitar tiga bulan. Pasalnya, perajin harus melewati proses panjang memintal benang, menenun, membatik dan pewarnaan dengan bahan alami.
Batik tulis tenun Tuban terbagi dua model, kain berukuran dua meter (tapih) dan selendang. Soal fungsi, kain batik Tuban biasanya digunakan sebagai hantaran pernikahan dari pihak laki-laki kepada mempelai perempuan. Bagi masyarakat yang berada, calon pengantin laki-laki biasanya membawa 100 lembar kain batik Tuban. “Paling sedikit pihak laki-laki membawa lima lembar kain batik sebagai hantaran pernikahan,” lanjut Uswatun. Sementara selendang, biasanya digunakan kaum ibu untuk menggendong bakul saat ke pasar atau ke sawah. Namun ada juga selendang yang khusus digunakan untuk menghadiri acara resmi. Karena batik Tuban punya nilai tinggi, masyarakat Tuban biasanya menyimpan kain batik untuk diwariskan kepada anak-anaknya.

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBBYYJahWNty7gbID96u6ie3pOpGqzGGIomPqiAJ5Jr-UTq0U84GSjeUe5_7lesUwS9Xa25SYiNENwg2IC7vIHer79boZ6eIdkD65e-RiSV0gtt8VBRW4hAO4aEtdhsFiA83Im_CG1kEk/s200/kecap
Selain kerajinan tangan yang menarik,tempat wisata yang indah dan bersejarah ada juga "PERINDUSTRIAN TUBAN'' yang terkenal contohnya: kecap yang sering di sebut '' KECAP LARON'' Kecap Laron sangat terkenal di daerah Tuban saja, Kecap Laron ini terkenal terkemnal karena rasanya yang manis dan kental itu membuat berkembang pesat di daerah TUBAN.Kecap ini tidak dipasarkan keluar Tuban

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnOcyU-GmrM0q9SckCDpTbPJkbBY450djaaTN10TownfqqK9N7mj3MqwIoj7zL7MMgCtGrxPbw5OXdnh4K18D5Ti8bcQOTjonw24G9RQcBHk0oyfe5VZnMZXe9-xeLgONOurBbLCfAnCk/s200/ikan+asin.jpg
karena pasokannya yang terbatas tidak bisa dipasarkan keluar Tuban. Selain itu ada juga Pengeringan ikan sering di sebut ''IKAN ASIN/ULAM GEREH'', karenaTuban dekat dengan laut yang indah dan masyarakat Tuban kebanyakan Nelayan dan hasil tangkapan yang sebagian dikeringkan dan yang sebagian dijual.


Selain itu ada juga ''PABRIK SEMEN GRESIK'' yang terkenal dengan hasil Semennya yang kokoh dan bagus, Semen Gresik itu hanya ada 2 cabang yang salah satunya ada di '' KECAMATAN KEREK'' Pabrik Semen Gresik sangat perduli dengan ''PENDIDIKAN'' yang ada di Tuban dengan membantu berupa ''BEASISWA'' dan ''PENDIDIKAN PRIMAGAMA' dengan itu Pabrik Semen Gresik sangat di sukai oleh orang sekitar.

Jumat, 23 November 2012

Panji Semirang Cerita dari Jawa Timur




Tersebutlah sebuah kerajaan bernama Jenggala, dengan putra mahkotanya bernama Raden Inu Kertapati. Dia berwajah rupawan, badannya tegap, dan sangat ramah kepada siapa saja, tanpa memandang status dan jabatannya. Dia sudah bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri Kerajaan Kediri.
Suatu waktu, Raden Inu Kertapati berangkat ke Kerajaan Kediri untuk menemui tunangannya. Rombongannya lengkap dengan perbekalan dan pengawal yang siap siaga.
Di tengah perjalanan, rombongan Raden Inu diberhentikan oleh gerombolan dari Negeri Asmarantaka yang dipimpin oleh Panji Semirang. Melihat ada orang yang menyuruhnya berhenti Raden Inu bersiap-siap seandainya harus bertempur. Akan tetapi gerombolan tersebut tidak menyerang mereka. Mereka hanya meminta Raden Inu untuk bertemu dengan pemimpinnya, Panji Semirang.
Tanpa rasa takut Raden Inu menemui Panji Semirang, yang menyambutnya dengan ramah, sehingga Raden Inu bertanya, “Rupanya engkau tidak seperti yang selama ini diceritakan orang-orang, wahai Panji Semirang?”. Panji Semirangpun mengatakan bahwa selama ini dia hanya mengundang rombongan untuk bertemu dengannya, siapa yang tidak berkenan, maka tidak dipaksa.
Akhirnya Raden Inu melanjutkan perjalanannya, setelah menceritakan bahwa dia sedang menuju Negeri Kediri, untuk menemui calon istrinya, Dewi Candra Kirana.
Radin Inu baru pertama kali bertemu dengan Panji Semirang. Namun selama pertemuan tersebut dia merasa seperti sudah mengenalnya sebelumnya, sehingga langsung merasa akrab. Hanya saja Raden Inu tidak dapat mengingat kapan dan di mana dia mengenal Panji Semirang. Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan Panji Semirang, Raden Inupun melanjutkan perjalanannya menuju Kediri.
Tiba di Kediri, rombongan Raden Inu disambut dengan meriah. Bahkan selir Raja Kediri bernama Dewi Liku yang memiliki putri bernama Dewi Ajeng ikut menyambut kehadiran Raden Inu Kertapati. Hanya saja Raden Inu tidak melihat kehadiran Dewi Candra Kirana. Ketika Raden Inu menanyakan keberadaan Dewi Candra Kirana, Dewi Ajeng mengatakan bahwa Dewi Candra Kirana menderita sakit ingatan dan sudah pergi lama dari kerajaan.
Mendengar keterangan kepergian Dewi Candra Kirana, Raden Inu kaget sekali sehingga jatuh pingsan. Iapun segera dibawa masuk ke dalam istana. Memanfaatkan kesempatan ini, dan dengan tipu muslihatnya, akhirnya Dewi Liku berhasil memperdaya Raja Kediri sehingga menikahkan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng. Menjelang acara pernikahan ini segala macam persiapan diperintahkan oleh Raja Kediri, pesta yang sangat meriah.
Rupanya rencana jahat Dewi Liku tidak berhasil. Tiba-tiba terjadi kebakaran hebat yang menghancurkan seluruh persiapan pernikahan tersebut. Melihat kejadian tersebut, Raden Inu dan rombonganpun meninggalkan istana, dan setelah berada jauh dari istana, diapun tersadar dan teringat kembali dengan Dewi Candra Kirana, yang sangat mirip sekali dengan Panji Semirang. Dia berpikir bahwa bisa jadi Panji Semirang adalah Dewi Candra Kirana. Kemudian dia dan seluruh rombongannya menuju Negeri Asmarantaka, tempat Panji Semirang berada.
Rupanya Panji Semirang sudah meninggalkan negeri tersebut. Tanpa putus asa, Raden Inu mencari keberadaan Panji Semirang hingga akhirnya tibalah mereka di Negeri Gegelang, yang rajanya masih kerabat dari Raja Jenggala. Di Negeri Gegelang ini Radn Inu disambut dengan gembira. Rupanya, Negeri Gegelang sedang menghadapi kesulitan, yaitu sedang diganggu oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Lasan dan Setegal. Akhirnya, Raden Inu Kertapati bersama-sama dengan pasukan dari Negeri Gegelang menghadapi para perampok. Raden Inu mengerahkan segenap kemampuannya menghadapi perampok tersebut, dan berhasil mengalahkannya hingga pimpinan perampok tersebut mati.
Pesta tujuh hari tujuh alam diadakan untuk menyambut kemenangan Raden Inu Kertapati dan pasukannya. Pada malam terakhir pesta tersebut Raja memanggil seorang ahli pantun, seorang pemuda bertubuh gemulai. Pantun yang dibawakannya berisi cerita perjalanan hidup Dewi Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati, hal yang membuat Raden Inu menjadi sangat penasaran sehingga akhirnya menyelediki siapa sebenarnya ahli pantun tersebut. Selidik punya selidik, rupanya rupanya ahli pantun tersebut memang adalah Panji Semirang alias Dewi Candra Kirana. Dewi Candra Kirana bercerita bahwa memang Dewi Liku yang membuatnya hilang ingatan hingga akhirnya keluar dari istana Daha. Dia disembuhkan oleh seorang pertapa yang memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit.
Setelah semua misteri terungkap jelas, akhirnya Raden Inu Kertapati kembali ke Negeri Jenggala untuk melangsungkan pernikahan meriah, dan menjadi sepasang suami istri yang hidup berbahagia.